Logistik

Strategi Khusus Pengusaha dan Pelindo Antisipasi Kepadatan Logistik Lebaran

Strategi Khusus Pengusaha dan Pelindo Antisipasi Kepadatan Logistik Lebaran
Strategi Khusus Pengusaha dan Pelindo Antisipasi Kepadatan Logistik Lebaran

JAKARTA - Menjelang Lebaran 2026, arus logistik nasional mulai menunjukkan tanda-tanda lonjakan. 

Beberapa pelabuhan strategis, termasuk Tanjung Emas di Semarang dan Tanjung Perak di Surabaya, mengalami peningkatan signifikan dalam volume kargo. 

Teguh Arif Handoko, Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Tengah-DIY, mencatat peningkatan throughput kontainer dari rata-rata 2.800 unit per hari menjadi sekitar 3.000 unit per hari, atau naik sekitar 130 persen. 

Lonjakan ini tidak hanya dipicu oleh momentum Lebaran, tetapi juga oleh pertumbuhan industri di Kawasan Industri Kendal (KIK) dan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), yang mendorong volume ekspor dan impor lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya.

Tahun 2025, throughput Pelabuhan Tanjung Emas tembus 1 juta TEUs, meningkat signifikan dibanding 700.000 TEUs pada 2023. Teguh menekankan, pertumbuhan ini mencerminkan aktivitas industri yang mulai beroperasi secara bertahap. 

"Walaupun baru sekitar 20 persen perusahaan di kawasan industri KIK dan KITB yang berproduksi, kontribusi mereka sudah terasa signifikan terhadap throughput pelabuhan," ujarnya.

Strategi Pengalihan Storage Untuk Mengantisipasi Kepadatan

Kepala ALFI Jatim, Sebastian Wibisono, menyatakan pengalihan storage menjadi strategi penting menghadapi lonjakan arus logistik. Gudang yang biasanya digunakan untuk ekspor akan dimanfaatkan sementara untuk menampung impor, terutama di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. 

Langkah ini dilakukan dengan koordinasi dan izin dari Bea Cukai agar distribusi tetap lancar dan tidak terjadi penumpukan di terminal utama.

Sebastian memperkirakan volume arus logistik di Surabaya meningkat hingga 80 persen, mengingat kota ini menjadi jalur transit utama ke wilayah timur Indonesia. Kombinasi momentum Nataru, Imlek, dan Idulfitri memperkuat lonjakan arus barang. 

Dengan strategi pengalihan storage, pemindahan kontainer ke depo domestik yang beroperasi 24 jam, dan koordinasi antarterminal, arus logistik dapat tetap berjalan lancar tanpa mengganggu kegiatan terminal.

Pelindo Terminal Petikemas Tingkatkan Efisiensi Operasional

PT Pelindo Terminal Petikemas menyiapkan langkah-langkah proaktif untuk mengantisipasi lonjakan bongkar muat. Corporate Secretary Widyaswendra menjelaskan, sistem operasi terminal digunakan untuk memprediksi tingkat kepadatan dermaga (berth occupancy) dan lapangan penumpukan kontainer (yard occupancy). 

Upaya ini memungkinkan perencanaan bongkar muat lebih efisien dan mengurangi potensi antrean panjang.

Selain itu, terminal menyiapkan lokasi overbrengen, atau pemindahan sementara penumpukan kontainer, untuk mengurai kepadatan di dalam area terminal. Selama libur Lebaran, operasional terminal peti kemas tetap berjalan 24 jam penuh, termasuk pelayanan bongkar muat. 

Widyaswendra menghimbau pengguna jasa memanfaatkan sistem terminal booking untuk meminimalkan kemacetan dan memastikan proses pengiriman maupun pengambilan kontainer berjalan lancar.

Aktivitas Bongkar Muat Jadi Indikator Positif Ekonomi

Frans Kongi, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Tengah, menilai lonjakan aktivitas ekspor-impor menjadi indikator positif perputaran ekonomi regional. Aktivitas bongkar muat meningkat sekitar 20 persen dibanding hari biasa, bahkan dapat mencapai 25 persen sepuluh hari sebelum Lebaran. 

Komoditas yang mendominasi termasuk bahan pangan, produk fesyen, dan perlengkapan Lebaran lainnya.

Frans menekankan, lonjakan aktivitas ini berdampak positif bagi UMKM dan ritel karena perputaran uang menjadi lebih cepat. 

Menurutnya, tren ekonomi di Jawa Tengah hingga Lebaran diprediksi positif dengan pertumbuhan konsumsi domestik yang kuat, sementara pertumbuhan ekonomi keseluruhan diperkirakan mencapai 5,7 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata normal 5,1–5,2 persen.

Tantangan dan Koordinasi Strategis Menghadapi Lonjakan Logistik

Meskipun kesiapan terminal dan strategi pengalihan storage telah diterapkan, faktor eksternal tetap menjadi tantangan. 

Geopolitik global, fluktuasi tarif perdagangan internasional, dan distribusi logistik lintas provinsi menjadi perhatian utama. Sebastian dan Frans sepakat, koordinasi antara pengusaha logistik, Pelindo, dan Bea Cukai menjadi kunci utama menjaga kelancaran arus barang.

Pengelolaan terminal yang efektif, pemanfaatan sistem digital untuk prediksi kepadatan, serta fleksibilitas gudang dan storage memastikan arus logistik tetap stabil.

Dengan langkah-langkah ini, potensi penumpukan dan antrean panjang dapat diminimalkan, sehingga seluruh rantai pasok nasional dapat berjalan optimal menjelang dan selama periode Lebaran 2026.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index